Sunday, May 22, 2016

Jejak Phinisi dan Warisan 2016

Jejak Phinisi dan Warisan – Karya Mohamad Rafie Sabar Shah
Baru saja seminggu kami meninggalkan Makassar,(Ujung Pandang) Sulawesi Selatan. Namun pengalaman dan perjalanan yang saya lalui bersama abang saya benar-benar meninggalkan kenangan yang abadi dan sungguh mempersonakan. Apa tidaknya..... Kami mendapat perbagai pelajaran, pengalaman luas dan pengajaran ilmu tentang beberapa aspek penting dalam kehidupan. Khusus nya tentang sejarahnya dan masyarakatnya,
Dari segi sejarahnya, keutamaan saya untuk mengetahui lebih terperinci mengenai cara-cara serta proses pembuatan Kapal Phinisi manakala abang saya memang berhajat untuk mencari hal-hal berkenaan dengan 'keturunan' Bugis yang kami warisi dari nenek-moyang kami.
Maka demikianlah kami namakan 'Jejak Phinisi dan Warisan' untuk kembara ilmu kali ini. Lebih kurang tiga bulan lamanya kami telah membuat perancangan awal. Dari segi pengangkutan udara dan darat sehinggakan tempat penginapan. 'Base camp' kami di KALUKU cottages,Pangrang Luhu' di Tanjung Bira, sebuah kampung nelayan yang sungguh alami dengan desiran alunan ombak dan pohon-pohon nyiur yg melambai. Pak Firman dan sekelian pembantunya amat ramah dan melayan kami seperti ahli keluarga mereka. Pak Muli pula menjadi jurupandu kami untuk bersiar-siar ke beberapa tempat-tempat menarik seperti Tebing Apparalang, ke Pantai Bira, Tanah Beru dan sempat membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang ketika kami di bandar Makassar tempoh hari.
KAPAL PHINISI
Kapal Phinisi merupakan salah satu kapal legendari tradisional kebanggaan Indonesia yang memiliki keunikan dalam pembuatannya. Tana Beru, berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan nadinya pembuatan Kapal Phinisi. Lebih unik lagi tempat ini dikenali sebagai Butta (Bumi) Panrita (Keahlian) Loppi (Pembina kapal) turun temurun dari generasi ke generasi. Dengan permintaan terhadap pembuatan Kapal Phinisi juga masih ramai, maka itu perajin Tana Beru masih tetap beroperasi hingga hari ini. Tetapi sebelum kami sampai ke Tana Beru ini, kami telah di bawa ke pelabuhan lama Paotere di Makassar untuk melihat sendiri dan sempat berfoto dengan kapal-kapal Phinisi yang berlabuh di sana. Inilah hasil nya.





Bagaimana sebenarnya konstruksi kapal kayu 'made in Indonesia' ini dibuat? Persoalan ini akhirnya menemui jawapannya. Penyelidikkan dalam bentuk penulisan dan bacaan telahpun saya perolehi. Kini setelah 5 jam perjalanan dari Kota Makassar, saya berasa amat bertuah sekali bukan saja dapat melihat dengan lebih dekat lagi dari peringkat awal, pertengahan dan akhir proses pembuatan Kapal Phinisi bahkan berkesempatan mewawancara salah seorang perajin atau 'tokoh' yang bernama Bapak Hj Abd Karim di Kg Lemo-Lemo Tanah Beru. Beliau merupakan antara beberapa tokoh yang masih lagi bergiat aktif dalam pembuatan kapal Phinisi. Dengan 6 orang saja anak-buah yang menolongnya, beliau dapat menyiapkan kapal persiaran yang bersaiz sederhana besarnya, berukuran 35 meter panjang, setinggi 4 meter dan 3.5 meter lebar dengan keberatan 70 hinggakan 100 ton, dgn harga boleh mencapai nilai IDR 3Milliar rupiah belum termasuk pembelian enginnya.(badan kapal) Beliaulah yang melatih, membimbing , memberikan tunjuk ajar secara praktikal, bertanggung-jawab terhadap pembagian kerja-kerja yang nanti dilaksanakan oleh pembantu dan pekerjanya sehingga selesai pembuatannya. Setelah selesai, barulah proses penurunan kapal ke laut diselenggarakan dengan mengikut upacara adat. Sebelum ini semua terjadi, ada beberapa proses tertentu yang harus dilalui seperti:
 -Proses pencarian dan pemilihan bahan dasar iaitu kayu dari pohon welengreng (pohon dewata) yang sangat terkenal kekukuhannya dan tidak mudah rapuh.

 -Penerbangan 'Kayu besi' ini juga tidak boleh dilakukan sembarangan dan akan melalui beberapa upacara adat dan ritual, 
-Kemudiannya pemotongan lunas (panjang kapal)yang memiliki aturan yang tersendiri,

 -Penentuan pusat perahu

-Seterusnya proses penyelesaian atau finishing kelengkapan isi dek dan
-Akhirnya proses penurunan kapal ke laut menurut hari yg ditentukan.



Yang uniknya ialah Kapal Phinisi ini memiliki corak atau desain yang tersendiri sekaligus menunjukkan keahlian para tokoh pembuatan kapal Phinisi. Khususnya dalam hal merangkai dinding kapal. Betapa tidak, rangka kapal masih tersusun rapi meskipun harus dibuat dalam desain yang melengkung. Malah yang lebih menghairankan, dalam proses pembuatannya, disusun papan atau dindingnya terlebih dahulu dan bukan dari rangka atau tulang. 'Blue print drawing' pun tidak digunakan. Ciri-ciri kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan 7 buah layar, yaitu 3 di hujung depan, 2 di depan, dan 2 di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang sebagai kapal dagang. Namun ada juga yang digunakan sebagai kapal ekspedisi dan kapal persiaran keliling dunia yang banyak kelihatan di nusantara. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Phinisi boleh beroperasi lebih dari 15 tahun.


Di akhir Jejak Phinisi dan Warisan ini, kami berdua amat teruja sekali. Abang saya dapat mengenali dengan lebih dekat lagi tentang sejarah keturunan Melayu Bugis kami. Melalui penyelidikkan beliau selama 5 tahun, beliau dapat menemukan sebahagian besar silsilah keturunan Bugis yang menjadi perantau ke Jajahan Tanah Melayu, ke Kalimantan, ke Riau, ke Lingga, Johor, Melaka, Selangor dan Kedah. Walaupun keterbatasan ilmu yang disampaikan namun kami bersyukur kerana sempat menjejakkan kaki kami di bumi asal nenek-moyang kami sekaligus mencapai hajat untuk mengkaji, mempelajari, mengenali identiti generasi kami sambil berkongsi pengalaman.

Wednesday, April 27, 2016

Konstruksi Pembuatan Phinisi




Konstruksi

> Perahu Phinisi umumnya dibangun dengan bentuk lambung (badan perahu) yang sama yaitu berbentuk sabut kelapa atau ketimun, dilengkapi dengan 7 buah layar terdiri dari 3 layardepan (jib sails), 2 layar utama (main sails) dan 2 layar puncak (top sails).

> Ada dua kemudi guling di sisi kanan dan kiri bagian belakang yang berfungsi mengatur arah perahu, dan mengimbangi layar, menjaga kestabilan perahu. Selain itu kemudi guling juga berfungsi sebagai pengukur kedalaman perairan (depth sounder) untuk menjaga agar perahu tidak kandas. Meski  pada PLM (perahu layar motor) terdapat pelat kemudi di tengah belakang baling-baling perahu, namun konstruksi guling umumnya tetap dipertahankan untuk kemudahan mengatur perahu saat pemakaian layar.

> Perbandingan panjang terhadap lebar perahu di tengah (L/B) yang relatif kecil (2,6-3,2) dan perbandingan lebar terhadap kedalaman /sarat (B/T) yang relatif besar (2,5-2,8) memberikan jaminan adanya sifat stabilitas yang baik disamping kemantapan untuk gerak dengan memakai layar yang umumnya memiliki luas yang lebih besar dari pada lateral perahu (LxT). Selain itu perbandingan panjang terhadap tinggi geladak perahu (L/H) yang relatif kecil (6,5-8) memberikan sifat kekakuan pada kekuatan memanjang.




PROSES PEMBUATAN PHINISI


1. Proses Pencarian Bahan DasarProses pencarian kayu yang menjadi bahan dasar pembuatan kapal pinisi diawali dengan penentuan hari baik yang dipandang menguntungkan. Lazimnya, hari ini dipilih pada hari ke lima dan ketujuh bulan berjalan. Penentuan hari ini didasari oleh nilai filosofi yakni jika hari kelima maka itu berarti Naparilimai dale’na. Lima dalam bahasa bugis berarti angka lima yang juga berarti telapak tangan. Naparilimai dale’na dapat dimaknakan dale’ atau rezeki diharapkan nantinya akan berada ditelapak tangan. Atau dengan makna lain rezeki mudah dicari jika kelak perahu yang akan dibuat dimanfaatkan untuk mencari rezeki atau keuntungan. JIka dipilih hari ketujuh, maka itu berarti Natujuangenggi dalle’na. Natujuang dalam bahasa Bugis berarti diniatkan atau dapat pula berarti didapatkan. Natujuangenggi dalle’na memberi makna kemudahan dalam memperoleh dalle’ (rezeki) atau apa saja yang menjadi niat dihati maka apa yang diniatkan itu mudah didapatkan.




2. Pemilihan pohon atau kayu yang akan dijadikan bahan dasar

Pemilihan kayu juga tidak dapat dilakukan secara serampangan, tapi dengan melalui proses pemilihan dengan penyelenggaraan ritual tertentu. Biasanya diawali dengan pemotongan ayam dan permintaan izin agar penghuni pohon atau makhluk halus yang diyakini mendiami pohon tersebut memberikan izin agar kayu tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembuatan perahu. Proses pemotongan ini juga harus dilaksanakan sekaligus, tidak boleh berhenti dikerjakan sebelum pohonnya tumbang. Karenanya, proses pemotongan yang lazimnya menggunakan gergaji dilakukan oleh laki-laki yang berbadan kuat.





3. Pemotongan Lunas
Pemotongan kayu untuk dijadikan lunas juga memiliki aturan tersendiri. Kayu bagian ujung yang dipotong dan tidak dapat dimanfaatkanakan dibuang kelaut. Proses pengantaran bagian ujung ini juga tidak boleh menyentuh tanah hingga kemudian dibuang kelaut. Upacara pengantaran ini lazim disebut ritual annattara. Bagian yang dibuang ini melambangkan laki-laki yang melaut untuk mencari nafkah atau juga dapat diartikan sebagai penolak bala. Selanjutnya potongan bagian belakang akan disimpan dirumah, sebagai symbol seorang istri yang menanti kedatangan suami yang sedang mencari nafkah dengan melaut.




4. Penentuan pusat perahu
Penentuan bagian yang menjadi pusat perahu atau ini lebih menitik beratkan pada nilai filosofis yang terkandung didalamnya, yakni melambangkan kelahiran bayi perahu. Selanjutnya proses pengerjaan perahu dilaksanakan dengan dikomandani oleh seorang Ponggawa. Ponggawa ini pulalah yang bertanggungjawab terhadap proses pembuatan perahu secara teknis hingga selesai.

5. Proses penyelesaian (finshing)
Proses selanjutnya adalah menyiapkan teras dan buritan perahu yang menjadi badan perahu. Proses ini diawali dengan pemasangan lunas perahu yang kemudian dusul dengan pemasangan linggi depan dan linggi belakang. Barulah kemudian jika selesai disusul pemasangan papan yang menjadi diding lambung perahu. Secara berurut juga dipasang tulang dan gading perahu. Setelah proses pemasangan gading ini selesai perahu dipasangi balok-balok dinding dan dek. Jika semuanya rampung menyusul kamar perahu yang akan dikerjakan.




Namun, perlu dijadikan catatan dalam proses pembuatan dan pemasangan beberapa bagian perahu, juga dikerjakan perekatan antara bagian yang menjadi komponen perahu. Perekatan ini dilakukan dengan memanfaatkan kulit pohon Barru dan dempul yang terbuat dari kapur dan minyak kelapa.

Seperti diketahui bahwa proses pembuatan kapal dikomandani oleh seorang punggawa atau orang yang mengerti tentang pembuatan perahu secara tekhnis. Punggawa ini kemudian memiliki tanggung jawab terhadap pembagian kerja yang dilaksanakan oleh para pembatu atau pekerja yang disebut Sawi.

Disamping itu seorang punggawa juga ditutut mampu memberikan pengarahan dan pengetahuan kepada para sawi sebagai pelaksana teknis. Sawi sendiri secara khusus sulit diketahui kemampuannya selain keterlibatannya sebagai pekerja dalam proses pembuatan perahu hingga selesai.

Setelah sebuah perahu pinisi selesai dikerjakan barulah prosesi penurunan kapal kelaut diselenggarakan. Upacara adat juga digelar dalam rangka penurunan kapal tersebut.








PERAHU ini memiliki corak dan keunikan yang tidak akan ditemukam di belahan dunia manapun. Keunikan tersebut sekaligus menunjukkan keahlian para pembuat perahu Pinisi. Khususnya, dalam hal merangkai dinding kapal. Betapa tidak, rangkaian kapal bisa tersusun rapi meskipun harus dibuat dalam desain yang melengkung. Malah yanglebih mengherankan lagi karena dalam proses pembuatannya lebih dulu disusun papan atau dinding dibanding rangka atau tulang.
Uniknya, tidak hanya perahu ukuran kecil saja. Tetapi sampai perahu besar dikerjakan dengan cara yang sama. Bahkan salah seorang tokoh Pinisi di Bontobahari, Patta Lolo menyebut salah satu perahu Pinisi pengangkut barang terbesar yang dibuat 1973 berbobot maksimal 200 ton dikerjakan dengan teknik seperti itu. Padahal kapal ini cukup besar karena selain barang, kapal ini bisa memuat ABK hingga 30 orang . Panjang tiang Pinisi yang diberi nama Panji Nusantara ini pun sangat luar biasa karena mencapai ketinggian 35 meter. Keunikan lain dari Pinisi adalah dari segi ritual adatnya. Dalam tradisi pembuatan Pinisi senantiasa dilakukan pemotongan ayam lebih dulu dan mengambil darahnya sebagai bahan ritual adat. Maksud dari ritual ini adalah pengharapan agar dalam penggunaan kapal ini tidak memakan korban manusia. “Harapannya, hanya ayam yang selalu dikeluarkan darahnya untuk disantap di atas kapal. Ini juga pertanda kemakmuran dan keamanan serta perlindungan bagi siapa saja yang memanfaatkannya,” tandas Abdullah, tokoh lainnnya.
Lantas bagaimana asal mula perahu ini? Tentu tidak muncul begitu saja. Desain kapal dengan corak khas dua tiang dan tujuh layar ini dalam sejarah disebutkan sebagai sebuah hasil evolusi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Mulai dari perahu tanpa lunas atau dasar kapal hingga perahu dengan desain lunas. Perahu tanpa lunas adalah jenis perahu sampan terbuat dari batang kayu yang dikeruk atau banyak disebut dengan perahu lesung.




Dalam bahasa Bugis-Makassar disebut dengan lepa-lepa. Kapasitas perahu jenis ini sangat bergantung dari besar kecilnya batang pohon dan biasanya hanya dipergunakan pada daerah yang memiliki gelombang dalamskala kecil.
Perahu tanpa lunas lainnya adalah perahu Soppe’. Perahu ini merupakan pengembangan dari perahu jenis sampan dengan tujuan menambah kapasitas muat kapal. Itu sebabnya, desain perahu ini menambah papan pada bagian lambung kapal dan menambah tingginya. Pada sisi kiri dan kanan diberikan alat penyeimbang yang terbuat dari bambu atau kayu ringan. Perahu jenis ini mulai digunakan untuk alat transportasi dalam ukuran kecil.

 Lalu ada pula bernama perahu Jarangka. Bentuknya mirip dengan perahu Soppe. Hanya ukurannya yang lebih panjang yakni antara enam sampai tujuh meter. Evolusi desain perahu Pinisi juga bisa dilihat berdasarkan buku rujukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bulukumba yang ditulis Muhammad Arief Saenong. Dalam buku tersebut disebutkan beberapa jenis kapal yang menggunakan lunas sebagai cikal bakal perahu Pinisi. Dimulai dengan keberadaan perahu Pa’dewakang yang merupakan perahu kuno pertama dimana dindingnya terdiri dari kepingan-kepingan papan yang tersusun.

Perkembangan selanjutnya yang sebagian besar tokoh Pinisi di Bulukumba menyebut awal mula Pinisi adalah munculnya perahu Pajala disusul perahu Patorani. Kedua perahu ini muncul dalam waktu yang tidak lama dan bentuknya pun hampir sama.

Perahu Pajala ini berdasarkan hasil penelitian G.A Harridge pada 1979 menyebutkan bahwa lambung kapal (hull) dan teknik pembuatan perahu pajala merupakan dasar pembuatan perahu di Sulawesi Selatan. Ini beradasar pada konstruksi lambung yang relatif sama dengan perahu pada umumnya. Perkembangan selanjutnya ada yang disebut perahu Lopi Niadara, perahu Ba’go dan perahu Lambok yang semuanya adalah pengembangan perahu Pajala.

Evolusi selanjutnya pasca tipe perahu Pajala dengan berbagai tipe lainnya yang tidak jauh berbeda. Muncullah perahu jenis Salompong. Perahu Salompong ini merupakan modifikasi yang dilakukan para pembuat perahu dengan jalan menambah susunan papan lamma dengan jalan diikat (nisekko). Tambahan susunan papan ini kemudian dilebihkan ke belakang yang dibentuk menjadi “rembasang”. Kapasitas perahu jenis ini terbagi atas Salompong kecil dengan kapasitas 10 sampai 15 ton dan Salompong besar hingga 30 ton.

Dari perahu jenis Salompong ini, evolusi menuju pinisi konon juga diantarai munculnya perahu jenis Palari. Bahkan jenis perahu yang memulai menggunakan dua tiang dan tujuh layar.Dua tiang utama sempena dua kalimah syahadah dan 7 layar sempana 7 hari yg mengundang rezeki.
Rentetan evolusi ini yang kemudian melahirkan sebuah kapal unik dengan corak khas tersendiri yakni perahu Pinisi yang terkenal dengan ekspedisi internasional Pinisi Nusantara ke Vancouver Kanada 1986 dan Pinisi Ammana Gappa yang mencapai Madagaskar pada 1991 silam.







Monday, April 25, 2016

Kembara Ku,Perjalanan Ku,Destinasi Ku

Aga Kareba...Salam Sejahtera
Assalamualaikum...
Salamakki Butta ri Mangkassara..Selamat datang ke bumi Makassar!



Kali ini mari ikut saya menjelajah keindahan bumi dbawah angin mahmeri Sulawesi Selatan, sebuah diantara ratusan kepulauan Indonesia dan menjejaki suatu tempat yg cukup unik bagi saya.Pernah dengar nama Makassar atau Ujung Pandang kan? Ya mungkin ada yg pernah sampai atau ada yg belum ketahui akan sejarahnya khususnya Makassar Sulawesi. Bandar Makassar ini adalah sebuah bandar pelabuhan yg cukup terkenal sejak zaman dahulu sebagai salah satu pelabuhan perdagangan rempah ratus terulung ke seluruh dunia.Dahulu dikenal dengan nama Ujung Pandang terletak di hujung semenanjung Sulawesi selatan.Makassar adalah sebuah pusat pemerintahan kesultanan Raja Gowa dahulu dibawah Sultan Raja Hassanuddin Gowa.Pada awal tahun 50 an lagi tempat ini sudah sangat terkenal sebagai pelabuhan ulung selepas Betawi dan pusat marintim ilmu pelayaran yg canggih menggunakan perahu tempatan mereka sendiri menjelajahi segenap lautan dunia. Orang2 bugis ini juga terkenal sebagai ahli pelayar mahir dengan sifat berani serta handal berperang dimedan perang.Lautan adalah padang permainan mereka sejak dari dahulu kala lagi lantas mereka juga mewarisi ilmu pelayaran serta jaguh dilautan.Aktiviti harian mereka adalah perdagangan hasil tempatan untuk dijual beli keserantau Asia hingga ke seluruh pelusuk dunia melalui jalan laut.

Kepulauan Sulawesi terletak di benua timur nusantara bersebelahan Borneo Kalimantan diantara selat Makassar terbahgi kepada beberapa wilayah utara,selatan,timur dan barat.*Sula erti nya Bumi dan *Wesi ertinya Besi maka Sulawesi adalah nama asal (Bumi besi) dalam bahasa makassar.Orang2 di Sulawesi terdiri dari berbagai suku kaum bangsa bugis dan majoriti nya berugama Islam.Terdapat 4 suku kaum utama bangsa melayu bugis terdiri dari bangsa Luwuk,Wajo,Mandar dan Makassar dan banyak lagi pribumi asli yg menetap di sini.Mereka juga memiliki sejarah bangsa tersendiri yg unik berdasarkan lontara epic kuno I La galigo antara yg terpanjang didunia.

Tujuan saya kali ini untuk mengenal serba sedikit tentang sejarah orang bugis serta meneroka tempat2 sejarah lain seperti menjejaki asal usul *Phinisi.,perahu dagang tangguh yg cukup sinonim dgn bangsa bugis.Tempat tersebut diSulawesi selatan didaerah Tanah Beru,Bulukumba.Lebih unik lagi tempat ini dikenali sebagai Butta (Bumi) Panrita (Keahlian) Loppi (Pembina kapal) turun temurun dari generasi ke generasi.Dan juga dikenali sebagai sebuah pusat marintim sejarah kuno masyarakat bugis pembuat perahu layar tempatan (Phinisi)yg tidak asing bagi masyarakat Indonesia.Dari apa yg diberitahu olih datuk moyang muasal keturunan saya maka saya merasa teruja untuk lebih mengenali dengan lebih dekat tentang sejarah ini.Walaupun kebatasan ilmu yg disampaikan maka saya ingin mengexplorasi sendiri pengalaman ini supaya dapat melihat sendiri dan untuk mengenal identiti generasi saya supaya dapat dikaji dan dipelajari dgn pengalaman2 sendiri.

Tempat yg akan saya lawati terletak disebuah perkampungan nelayan yg dinamai Desa Ara tanah Beru,kecamatan BontoBahari,kabupaten Bulukumba,Sulawesi Selatan.Tempat ini sangat unik bagi saya kerana sejarah tempat membina kapal/perahu phinisi asal yg tertua dan sangat mashyur di seantero dunia marintim.Banyak sudah hasil kapal2 ini yg ditempah olih pedagang2 dan juga juragan2 asing dari luar negara seperti dari Eropah,Australia dan sejauh Amerika.Khabarnya Orang2 bugis disana memang sudah lama terkenal sebagai pembina kapal yg mahir dan pelayar2 yg handal sejak dahulu lagi melayari benua timur hingga kebarat dgn kapal kayu tempatan buatan hasil mereka sendiri tanpa menggunakan teknik moden.



Bagi saya, berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas, Kapal Phinisi itu sangat legendaris. Kekuatannya sudah teruji mampu mengarungi samudera lautan, selain bukti terdamparnya bangkai kapal di Pantai Acapulco Mexico dahulu, Pelayaran historis Pinisi ke Vancouver Canada pada tahun 1986 dan keberhasilan Pinisi dalam misi pelayaran Pinisi Nusantara*Amanna Gappa ke Madagaskar adalah bukti-bukti nyata tentang ketangkasan perahu ini dengan ciri ciri khas dua tiang (somba) tujuh layar ini mengarungi samudera lautan luas.Sesuatu yg unik ttg pembuatan kapal layar perahu ini adalah bentuknya yg asli tiada bandingan dari kapal2 layar moden lain.Dengan 2 tiang layar utama simbolik kepada syiar ugama Islam (2 kalimah syahadah) dan 7 layar sesuai dgn lautan 7 benua..Lebih unik lagi dibuat dgn tangan hasil kerja semua dari ilham dan warisan  turun temurun dan kerajinan tangan ahli2 panrita lopi tersebut.
Menurut Usman Pelly (1975) Kapal Pinisi dibuat oleh ahli-ahli perahu yang berasal dari salah satu desa di Bonto Bahari Bulukumba, yaitu Desa Ara. Sampai akhir 1970-an orang Ara memonopoli keahlian membuat Perahu Pinisi secara turun temurun. Menurut fakta kajian, keahlian mereka sama tuanya dengan kebudayaan maritim suku bugis Makassar itu sendiri. Keahlian membuat perahu Pinisi sendiri ternyata sangat erat kaitannya dengan sejarah legenda mitos Sawerigading yang tenggelam di ketiga daerah perairan Lemo,Ara dan Bira kemudian hanyut dan terdampar di sekitar tanjung Bira. Orang Ara percaya, bahwa kepandaian mereka membuat perahu bersumber dari penemuan bagian-bagian perahu Sawerigading yang tenggelam itu. Menurut mereka, kepingan-kepingan itu dikumpulkan kemudian dirakit kembali. Dari hasil rakitan itulah orang Ara mendapatkan inspirasi pembuatan kapal. Orang Lemo-lemo juga percaya bahwa keahlian mereka dalam membuat kapal juga berasal dari penemuan bagian perahu Sawerigading, begitu pula orang Bira yang percaya keahlian berlayar mereka berasal dari bagian perahu Sawerigading menurut sejarah epic La galigo bugis kuno.



SAWERIGADING menurut legenda rakyat Bugis adalah seorng pahlawan bugis, merupakan putera mahkota kerajaan Luwuk/Goa yang jatuh cinta dengan We Tenri Abeng (We Cundai) puteri Cina yang tidak lain adalah saudara kembarnya, yang sejak kecil memang dipisahkan.Maka seluruh kerabat kerajaan tentu menentangnya berkahwin dan menganjurkan agar Sawerigading berlayar ke Teluk Bone dan mencari jodoh di sana. Sawerigading setuju dengan syarat agar kepadanya diberikan sebuah perahu baru.Maka datuk nya Datu La Toge Langi yang terkenal sakti membuatkan sebuah perahu untuknya yang selesai dalam sehari semalam. Sang putera mahkota kemudian berlayar ke Teluk Bone dan bertemu dengan gadis cantik yang mirip dengan We Tenri Abeng.Mereka menikah dan Sawerigading bersumpah tidak akan kembali ke kampung halamannya. Tetapi waktu berlalu dan rasa rindu kampung halaman menyebabkan dia pulang dengan perahunya,lalu melanggar sumpahnya sendiri. Di selat Selayar perahunya pecah diterjang badai dan Sawerigading tenggelam. Perahu yang pecah tersebut terdampar di desa Ara dan dirakit kembali. Dari situlah prototype perahu phinisi berkembang sampai saat ini. Cerita terbelahnya kapal Sawerigading ini berasal dari sumpah Sawerigading yang berjanji tidak akan kembali lagi ke tanah Luwu setelah meninggalkan tanah kelahirannya untuk menemui We Cudai. Keputusan Sawerigading meninggalkan kampung halamannya lantaran dihalangi menikahi saudara kandungnya sendiri, We tenri Abeng.




Begitu lah sejarah yg dikhabarkan tentang legenda mitos bugis Sawerigading. Peranan Orang Desa Ara, Bira dan Lemo-lemo memang sejak dahulu dikenal orang sebagai tiga desa Pinisi. Masing-masing ketiga desa tersebut memiliki peranan dan kepakaran tersendiri, menurut sebuah sumber orang Ara berperanan sebagai pembuat, orang Lemo-lemo sebagai pemodal, dan orang Bira sebagai pelaut. Ada juga yang mengatakan orang Ara sebagai pembuat, Orang Lemo-lemo sebagai penghalus pekerjaan, dan orang Bira sebagai penentu bentuk atau model perahu. Pendapat terakhir lebih kuat karena didasarkan pada sebuah bait sebuah karya sastra “Sinrilikna Datu Museng” yang berbunyi :“Panre Patangara’na Bira, Pasingkolo Tu Araya, Pabingkung tu Lemo-lemo”. Yang artinya kurang lebih seperti pendapat terakhir.
Dari perjalanan ini Saya pasti merasa ingin mengetahui lebih mendalam sejarah dan identiti sambil berjalan2 merantau ke negeri orang.Apa lagi sememangnya sebagai anak kelahiran keturunan bugis dari moyang saya terdahulu mempunyai impian untuk mengenali sejarah sendiri.Kehidupan dirantauan adalah sinonim bagi saya sewajarnya begitu.Hidup Bugis di rantauan!









Diakhir perjalanan saya akan menyusuri sekitaran kabupaten Bulukumba dan menikmati keindahan alam yg terdapat disana seperti BiraBara,Appalarang,TanahBeru,Lemo-lemo,Kaluke dan lain2 lagi.Jika ade rezeki lebih ya mungkin juga saya akan membeli ole-ole Mangkasar buat kenang kenangan sebelum pulang ketanah air.
Salam Santai Indonesia....