Jejak
Phinisi dan Warisan – Karya Mohamad Rafie Sabar Shah
Baru
saja seminggu kami meninggalkan Makassar,(Ujung Pandang) Sulawesi Selatan.
Namun pengalaman dan perjalanan yang saya lalui bersama abang saya benar-benar
meninggalkan kenangan yang abadi dan sungguh mempersonakan. Apa tidaknya.....
Kami mendapat perbagai pelajaran, pengalaman luas dan pengajaran ilmu tentang
beberapa aspek penting dalam kehidupan. Khusus nya tentang sejarahnya dan
masyarakatnya,
Dari
segi sejarahnya, keutamaan saya untuk mengetahui lebih terperinci mengenai
cara-cara serta proses pembuatan Kapal Phinisi manakala abang saya memang
berhajat untuk mencari hal-hal berkenaan dengan 'keturunan' Bugis yang kami
warisi dari nenek-moyang kami.
Maka
demikianlah kami namakan 'Jejak Phinisi dan Warisan' untuk kembara ilmu kali
ini. Lebih kurang tiga bulan lamanya kami telah membuat perancangan awal. Dari
segi pengangkutan udara dan darat sehinggakan tempat penginapan. 'Base camp'
kami di KALUKU cottages,Pangrang Luhu' di Tanjung Bira, sebuah kampung nelayan
yang sungguh alami dengan desiran alunan ombak dan pohon-pohon nyiur yg
melambai. Pak Firman dan sekelian pembantunya amat ramah dan melayan kami
seperti ahli keluarga mereka. Pak Muli pula menjadi jurupandu kami untuk
bersiar-siar ke beberapa tempat-tempat menarik seperti Tebing Apparalang, ke
Pantai Bira, Tanah Beru dan sempat membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang
ketika kami di bandar Makassar tempoh hari.
KAPAL
PHINISI
Kapal
Phinisi merupakan salah satu kapal legendari tradisional kebanggaan Indonesia
yang memiliki keunikan dalam pembuatannya. Tana Beru, berlokasi di Bulukumba,
Sulawesi Selatan merupakan nadinya pembuatan Kapal Phinisi. Lebih unik lagi
tempat ini dikenali sebagai Butta (Bumi) Panrita (Keahlian) Loppi (Pembina
kapal) turun temurun dari generasi ke generasi. Dengan permintaan terhadap
pembuatan Kapal Phinisi juga masih ramai, maka itu perajin Tana Beru masih
tetap beroperasi hingga hari ini. Tetapi sebelum kami sampai ke Tana Beru ini,
kami telah di bawa ke pelabuhan lama Paotere di Makassar untuk melihat sendiri
dan sempat berfoto dengan kapal-kapal Phinisi yang berlabuh di sana. Inilah
hasil nya.
Bagaimana
sebenarnya konstruksi kapal kayu 'made in Indonesia' ini dibuat? Persoalan ini
akhirnya menemui jawapannya. Penyelidikkan dalam bentuk penulisan dan bacaan
telahpun saya perolehi. Kini setelah 5 jam perjalanan dari Kota Makassar, saya
berasa amat bertuah sekali bukan saja dapat melihat dengan lebih dekat lagi
dari peringkat awal, pertengahan dan akhir proses pembuatan Kapal Phinisi
bahkan berkesempatan mewawancara salah seorang perajin atau 'tokoh' yang
bernama Bapak Hj Abd Karim di Kg Lemo-Lemo Tanah Beru. Beliau merupakan antara
beberapa tokoh yang masih lagi bergiat aktif dalam pembuatan kapal Phinisi.
Dengan 6 orang saja anak-buah yang menolongnya, beliau dapat menyiapkan kapal
persiaran yang bersaiz sederhana besarnya, berukuran 35 meter panjang, setinggi
4 meter dan 3.5 meter lebar dengan keberatan 70 hinggakan 100 ton, dgn harga
boleh mencapai nilai IDR 3Milliar rupiah belum termasuk pembelian
enginnya.(badan kapal) Beliaulah yang melatih, membimbing , memberikan tunjuk
ajar secara praktikal, bertanggung-jawab terhadap pembagian kerja-kerja yang
nanti dilaksanakan oleh pembantu dan pekerjanya sehingga selesai pembuatannya.
Setelah selesai, barulah proses penurunan kapal ke laut diselenggarakan dengan
mengikut upacara adat. Sebelum ini semua terjadi, ada beberapa proses tertentu
yang harus dilalui seperti:
-Proses pencarian dan pemilihan bahan dasar
iaitu kayu dari pohon welengreng (pohon dewata) yang sangat terkenal
kekukuhannya dan tidak mudah rapuh.
-Penerbangan 'Kayu besi' ini juga tidak boleh
dilakukan sembarangan dan akan melalui beberapa upacara adat dan ritual,
-Kemudiannya pemotongan lunas (panjang kapal)yang memiliki aturan yang
tersendiri,
-Penentuan pusat perahu
-Seterusnya
proses penyelesaian atau finishing kelengkapan isi dek dan
-Akhirnya
proses penurunan kapal ke laut menurut hari yg ditentukan.
Yang
uniknya ialah Kapal Phinisi ini memiliki corak atau desain yang tersendiri
sekaligus menunjukkan keahlian para tokoh pembuatan kapal Phinisi. Khususnya
dalam hal merangkai dinding kapal. Betapa tidak, rangka kapal masih tersusun
rapi meskipun harus dibuat dalam desain yang melengkung. Malah yang lebih
menghairankan, dalam proses pembuatannya, disusun papan atau dindingnya
terlebih dahulu dan bukan dari rangka atau tulang. 'Blue print drawing' pun
tidak digunakan. Ciri-ciri kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan
7 buah layar, yaitu 3 di hujung depan, 2 di depan, dan 2 di belakang; umumnya
digunakan untuk pengangkutan barang sebagai kapal dagang. Namun ada juga yang
digunakan sebagai kapal ekspedisi dan kapal persiaran keliling dunia yang
banyak kelihatan di nusantara. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Phinisi
boleh beroperasi lebih dari 15 tahun.
Di
akhir Jejak Phinisi dan Warisan ini, kami berdua amat teruja sekali. Abang saya
dapat mengenali dengan lebih dekat lagi tentang sejarah keturunan Melayu Bugis
kami. Melalui penyelidikkan beliau selama 5 tahun, beliau dapat menemukan
sebahagian besar silsilah keturunan Bugis yang menjadi perantau ke Jajahan
Tanah Melayu, ke Kalimantan, ke Riau, ke Lingga, Johor, Melaka, Selangor dan
Kedah. Walaupun keterbatasan ilmu yang disampaikan namun kami bersyukur kerana
sempat menjejakkan kaki kami di bumi asal nenek-moyang kami sekaligus mencapai
hajat untuk mengkaji, mempelajari, mengenali identiti generasi kami sambil
berkongsi pengalaman.


































