Sunday, May 22, 2016

Jejak Phinisi dan Warisan 2016

Jejak Phinisi dan Warisan – Karya Mohamad Rafie Sabar Shah
Baru saja seminggu kami meninggalkan Makassar,(Ujung Pandang) Sulawesi Selatan. Namun pengalaman dan perjalanan yang saya lalui bersama abang saya benar-benar meninggalkan kenangan yang abadi dan sungguh mempersonakan. Apa tidaknya..... Kami mendapat perbagai pelajaran, pengalaman luas dan pengajaran ilmu tentang beberapa aspek penting dalam kehidupan. Khusus nya tentang sejarahnya dan masyarakatnya,
Dari segi sejarahnya, keutamaan saya untuk mengetahui lebih terperinci mengenai cara-cara serta proses pembuatan Kapal Phinisi manakala abang saya memang berhajat untuk mencari hal-hal berkenaan dengan 'keturunan' Bugis yang kami warisi dari nenek-moyang kami.
Maka demikianlah kami namakan 'Jejak Phinisi dan Warisan' untuk kembara ilmu kali ini. Lebih kurang tiga bulan lamanya kami telah membuat perancangan awal. Dari segi pengangkutan udara dan darat sehinggakan tempat penginapan. 'Base camp' kami di KALUKU cottages,Pangrang Luhu' di Tanjung Bira, sebuah kampung nelayan yang sungguh alami dengan desiran alunan ombak dan pohon-pohon nyiur yg melambai. Pak Firman dan sekelian pembantunya amat ramah dan melayan kami seperti ahli keluarga mereka. Pak Muli pula menjadi jurupandu kami untuk bersiar-siar ke beberapa tempat-tempat menarik seperti Tebing Apparalang, ke Pantai Bira, Tanah Beru dan sempat membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang ketika kami di bandar Makassar tempoh hari.
KAPAL PHINISI
Kapal Phinisi merupakan salah satu kapal legendari tradisional kebanggaan Indonesia yang memiliki keunikan dalam pembuatannya. Tana Beru, berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan nadinya pembuatan Kapal Phinisi. Lebih unik lagi tempat ini dikenali sebagai Butta (Bumi) Panrita (Keahlian) Loppi (Pembina kapal) turun temurun dari generasi ke generasi. Dengan permintaan terhadap pembuatan Kapal Phinisi juga masih ramai, maka itu perajin Tana Beru masih tetap beroperasi hingga hari ini. Tetapi sebelum kami sampai ke Tana Beru ini, kami telah di bawa ke pelabuhan lama Paotere di Makassar untuk melihat sendiri dan sempat berfoto dengan kapal-kapal Phinisi yang berlabuh di sana. Inilah hasil nya.





Bagaimana sebenarnya konstruksi kapal kayu 'made in Indonesia' ini dibuat? Persoalan ini akhirnya menemui jawapannya. Penyelidikkan dalam bentuk penulisan dan bacaan telahpun saya perolehi. Kini setelah 5 jam perjalanan dari Kota Makassar, saya berasa amat bertuah sekali bukan saja dapat melihat dengan lebih dekat lagi dari peringkat awal, pertengahan dan akhir proses pembuatan Kapal Phinisi bahkan berkesempatan mewawancara salah seorang perajin atau 'tokoh' yang bernama Bapak Hj Abd Karim di Kg Lemo-Lemo Tanah Beru. Beliau merupakan antara beberapa tokoh yang masih lagi bergiat aktif dalam pembuatan kapal Phinisi. Dengan 6 orang saja anak-buah yang menolongnya, beliau dapat menyiapkan kapal persiaran yang bersaiz sederhana besarnya, berukuran 35 meter panjang, setinggi 4 meter dan 3.5 meter lebar dengan keberatan 70 hinggakan 100 ton, dgn harga boleh mencapai nilai IDR 3Milliar rupiah belum termasuk pembelian enginnya.(badan kapal) Beliaulah yang melatih, membimbing , memberikan tunjuk ajar secara praktikal, bertanggung-jawab terhadap pembagian kerja-kerja yang nanti dilaksanakan oleh pembantu dan pekerjanya sehingga selesai pembuatannya. Setelah selesai, barulah proses penurunan kapal ke laut diselenggarakan dengan mengikut upacara adat. Sebelum ini semua terjadi, ada beberapa proses tertentu yang harus dilalui seperti:
 -Proses pencarian dan pemilihan bahan dasar iaitu kayu dari pohon welengreng (pohon dewata) yang sangat terkenal kekukuhannya dan tidak mudah rapuh.

 -Penerbangan 'Kayu besi' ini juga tidak boleh dilakukan sembarangan dan akan melalui beberapa upacara adat dan ritual, 
-Kemudiannya pemotongan lunas (panjang kapal)yang memiliki aturan yang tersendiri,

 -Penentuan pusat perahu

-Seterusnya proses penyelesaian atau finishing kelengkapan isi dek dan
-Akhirnya proses penurunan kapal ke laut menurut hari yg ditentukan.



Yang uniknya ialah Kapal Phinisi ini memiliki corak atau desain yang tersendiri sekaligus menunjukkan keahlian para tokoh pembuatan kapal Phinisi. Khususnya dalam hal merangkai dinding kapal. Betapa tidak, rangka kapal masih tersusun rapi meskipun harus dibuat dalam desain yang melengkung. Malah yang lebih menghairankan, dalam proses pembuatannya, disusun papan atau dindingnya terlebih dahulu dan bukan dari rangka atau tulang. 'Blue print drawing' pun tidak digunakan. Ciri-ciri kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan 7 buah layar, yaitu 3 di hujung depan, 2 di depan, dan 2 di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang sebagai kapal dagang. Namun ada juga yang digunakan sebagai kapal ekspedisi dan kapal persiaran keliling dunia yang banyak kelihatan di nusantara. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Phinisi boleh beroperasi lebih dari 15 tahun.


Di akhir Jejak Phinisi dan Warisan ini, kami berdua amat teruja sekali. Abang saya dapat mengenali dengan lebih dekat lagi tentang sejarah keturunan Melayu Bugis kami. Melalui penyelidikkan beliau selama 5 tahun, beliau dapat menemukan sebahagian besar silsilah keturunan Bugis yang menjadi perantau ke Jajahan Tanah Melayu, ke Kalimantan, ke Riau, ke Lingga, Johor, Melaka, Selangor dan Kedah. Walaupun keterbatasan ilmu yang disampaikan namun kami bersyukur kerana sempat menjejakkan kaki kami di bumi asal nenek-moyang kami sekaligus mencapai hajat untuk mengkaji, mempelajari, mengenali identiti generasi kami sambil berkongsi pengalaman.

No comments:

Post a Comment